KARNANYA AKU PERPURA PURA TIDAK SUKA (cerpen)
Namaku Audi, aku seorang gadis remaja yang sangat suka makan buah alpukat. Hampir setiap minggu aku selalu makan buah alpukat. Bagiku warna hijau dan rasa getirnya mencerminkan kehidupanku. Hidupku tidak banyak warna dan sepi.
Dery, sang kapten basket di sekolah ku. Dia anaknya tinggi, tegas, bertanggung jawab, cool, ganteng, dan memiliki banyak fans entah kakak kelas, adik kelas, maupun teman seangkatan. Termasuk aku. Sejak pertama kali aku melihatnya aku langsung jatuh hati padanya. Semakin hari rasa suka itu semakin dalam saat aku mengetahuinya lebih dalam pula. Namun, aku tidak seperti cewek-cewek genit yang caper terhadapnya. Aku hanya memendam, menyembunyikan, dan merahasiakannya dari siapapun. Jujur, di sekolah aku tidak memiliki teman, padahal aku merasa aku tidak berbeda dengan mereka. Hidup itu memang harus disyukuri, aku memiliki seorang ibu yang amat sangat menyayangiku. Sudah sepuluh tahun ayah meninggal saat berusaha menolongku.
Pada saat itu, aku hendak menyebrang jalan. Karna aku masih kecil aku tidak tahu cara menyebrang bagaimana, jadi aku langsung saja berlari ke tengah jalan. Tepat dari arah kiri ku ada mobil yang sedang melaju lumayan kencang. Saat itu aku terjatuh karena didorong ayah ke tepi jalan dan aku tidak tahu lagi kejadian selanjutnya. Tahu-tahu aku sudah di rumah sakit.
Kembali lagi ke kehidupanku saat ini. Sekarang aku sedang berada di kelas membaca buku. Teman sekelas ku sedang membicarakan bahwa hari ini akan ada murid baru seorang perempuan. Aku sangat berharap ia mau menjadi temanku, teman pertamaku.
Bel masuk bordering, suara hentakkan sepatu terdengar dari kejauhan. Sang murid baru bersama guru pun masuk. Ia cantik, sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang dan senyumnya manis. Aku melihat Dery yang duduk di bangku sebelahku. Ia tampak sedang memerhatikan murid baru itu penuh kagum. Aku rasa ia menyukai murid baru itu. Mengapa seketika hatiku terasa sakit ? Mengapa rasanya aku ingin menitikan air mata ?
“halo.. nama saya Rissa Diana, saya pindahan dari Jakarta, mohon bantuannya..”
Dia duduk agak jauh dari bangku ku dan Dery. Pelajaran dimulai. Ada sesuatu yang membuatku gembira. Dery, ia mendapatkan nilai buruk di ulangan matematika kemarin dan bu guru menyuruhku untuk mengajarinya agar ia berhasil pada ulangan berikutnya. Pulang sekolah ini aku pergi ke rumah Dery untuk mengajarinya matematika. Kami berdua memilih ruang tamu sebagai tempatnya.
“eh, Di ?”
“iya ?” jawabku.
“kalau soal kaya gini cara ngerjainnya gimana ?”
“caranya bilangan di dalam kurung di jumlahin dulu terus di pangkat terus nanti tinggal diitung pake rumus,” ujarku menerangkan.
Jarak antara kami berdua sangat dekat. Aroma tubuhnya yang maskulin terhirup olehku.
“salah, bukan gini, mana pensilnya ?” tanyaku.
Aku ingin mengambil pensil yang ada di depanku. Dery juga dengan spontan ingin mengambilnya. Alhasil, kepala kami berbenturan. Sebelum kepala kami menjauh kami sempat bertatapan cukup lama. Matanya sangat manis tergambar kesetiaan dalam pancaran matanya. Jantung ini berdegug dengan kencang, aku gugup. Namun, pembelajaran ini terus berlangsung.
Keesokan harinya sepulang sekolah aku langsung ke rumah dery untuk mengajarinya lagi. Karena besok akan ada ulangan matematika. Hari ini aku akan berusaha keras untuk membuat Dery bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.
Entah mengapa, hari ini aku sangat yakin untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Aku sungguh tidak tahan jika harus memendam rasa ini terus-menerus. Aku juga ingin Dery tahu perasaanku padanya. Ditolak, dimusuhi, dibenci itu urusan nanti. Sudah ku putuskan untuk mengungkapkannya setelah kami selesai belajar.
“em.. Der ?” tanyaku yang mulai gugup.
“apa ?”
“a..aku “ penyakit gagap akutku muncul.
“a..aku emang enggak cantik, aku enggak sempurna, aku juga lemah, penakut, aku enggak punya temen, tapi aku suka sama kamu Der !”
Suasana menjadi hening saat itu. Aku tak berani menatapnya, aku tak berani untuk berbicara. Tubuhku menjadi kaku. Hening, hening sangat lama.
“kamu pemberani kok, kamu pinter, cantik, manis, makasih kamu udah ngungkapin perasaan kamu ke aku. Mau pulang ? Aku anterin ya udah sore ?”
Malamnya aku merenung dan memikirkan hal tadi. Sungguh gila memang. Tapi mau bagaimana lagi ? Cinta jika semakin di pendam akan menjadi sakit. Tidak masalah hasil akhirnya bagaimana tapi percaya pada cinta akan membuat segalaya menjadi lebih baik.
Keesokkan paginya ulangan dilaksanakan. Soal yang keluar hampir sama dengan soal-soal yang ku berikan kepada Dery. Semoga saja ia tidak lupa dengan rumus-rumus yang telah kami pelajari bersama. Melihatnya tersenyum bahagia karenaku adalah salah satu kebahagiaan besar dalam hidupku.
Ulangan kali ini Dery mendapat nilai sempurna sama seperti ku. Dery mengucapkan terima kasih padaku, karna ku ia mendapat nilai sempurna. Selain itu, keesokkan paginya aku diberi coklat sebagai tanda terima kasihnya.
Hari terus berputar, kini aku dengan Rissa sudah berteman baik. Murid baru itu ternyata pribadi yang menyenangkan. Ia juga ramah dan tidak membeda-bedakan teman. Ia pun sering bercerita tentang keluarganya yang baru bercerai sejak sebulan yang lalu. Awalnya ia sangat terpukul dan tidak kuasa menerima pernyataan itu, namun berkat ibunya ia mau bertahan. Ia pun mulai bercerita tentang masalah perasaanya. Katanya ia sedang jatuh cinta pada seseorang. Ia belum menyebutkan nama lelaki yang ia suka. Namun, mengapa aku berpikir jika lelaki yang dimaksud adalah Dery ?
“eh Ris, emang siapa sih cowoknya ?” tanyaku.
“aku malu tau, nanti kamu ngetawain lagi.”
“enggak kok aku janji,”
“janji ?” “iya”
“dia Dery”
Aku terkejut mendengarnya aku seperti tak percaya jika temanku sendiri, teman pertamaku menyukai cowok yang sama. Salahnya aku juga sih yang tak pernah bercerita tentang perasaan ku kepada Dery. Apa yang harus aku lakukan ? Mengalah ? Padahal aku telah memendam perasaan ini lebih lama darinya.
“aku suka sama Dery, apa jangan-jangan kamu juga suka yah ?” ia bertanya tentang perasaan ku pada Dery. Entah apa yang harus akau katakan. Dia teman pertamaku dan aku tidak mau menghancurkan persahabatan ini. Biarkan hatiku saja yang hancur. “enggak kok” ku jawab pertanyaannya.
Satu bulan kemudian, Rissa mengajakku ke sebuah café. Ia mengatakan jika akan ada sesuatu yang sangat mengejutkan. Sebenarnya acara ini bukan untukku tapi karna aku sekarang menjadi sahabatnya aku pun diajaknya. Ia ingin aku merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.
Saat memasuki café aku tertegun saat melihat ada sososk Dery sedang duduk di salah satu meja di café itu. Rissa menarikku ke arah mejanya lalu aku dan Rissa duduk satu meja dengannya. Dery terlihat sangat kaget, aku tahu dari matanya.
“aku ajak Audi yah Der, dia sahabat aku,” ucap Rissa penuh semangat.
“emang ada apaan sih ini ?” tanyaku.
“hari ini aku jadian sama Dery,” ujar Rissa.
Acara ini seolah memberiku sebuah kejutan. Bukan kejutan istimewa yang diberikan padaku. Kejutan yang benar-benar mengejutkanku bahkan dapat membuatku menangis sedih seperti saat ini yang sedang ku tahan agar air mata itu tidak mengalir.
“jadi kalian jadian selamat yah, kalian cocok kok,” ucapku sembari menampakkan senyum kebohonganku. Tak tahu mengapa rasanya saat ini aku ingin memeluk Rissa. Ku peluk dirinya.
Aku tidak mampu berkata apapun selain itu dan aku tidak mungkin marah karena ini semua. Aku tahu Dery sangat merasa bersalah padaku. Namun bagaimana Cintaku ini adalah cinta sepihak. Cinta yang membuat orang yang mencinta menangis, tersayat hatinya, terpuruk jiwanya. Aku memakan makanan yang ditraktir Rissa dengan penuh paksaan, menelan makanan saja susah rasanya. Dada terasa sesak padahal aku tak memiliki penyakit pernapasan apapun. Aku tak mampu melihat Dery dan Rissa.
Ini aku, inilah aku yang sesungguhnya. Rapuh dan lemah. Aku harus mendapatkan kenyataan bahwa orang yang aku suka menjadi milik sahabatku sekarang. Mengorbankan perasaan demi sahabat. Menangislah diriku dalam ruang hampa yang kelam.
Komentar
Posting Komentar